- Galeri Yaspida

Campus Berprestasi & Berkarakter Islami

Saturday, April 2, 2016

FILSAFAT DAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN



BAB I. PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti bahasanya adalah cinta akan kebenaran
Filsafat merupakan pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  
Ciri-ciri berfikir filosfi :
1.      Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
2.       Berfikir secara sistematis.
3.       Menyusun suatu skema konsepsi, dan
4.       Menyeluruh.
Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :
1.      Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
2.      Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
3.      Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.
Beberapa ajaran filsafat yang  telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:
1.      Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
2.      Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
3.      Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
4.      Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :
1.      Sebagai dasar dalam bertindak.
2.      Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3.      Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
4.      Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
Sedangkan manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.
B.  Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai Untuk mengetahui pengertian filsafat secara umum dari beberapa ahli dan teori manajemen dalam pendidikan.





BAB II. ISI
Pengertian Filsafat
Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti bahasanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah atau kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, ilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana. Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher, atau filsuf dalam bahasa Arab. Dan pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
Dalam pemikiran yang lebih luas Harold Titus mengemukakan beberapa pengertian filsafat sebagai berikut:
1.   filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
2.      Filsafat adalah suatu usaha untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan.
3.      Filsafat adalah analisa logis dari bahasan serta penjelasan tentang arti konsep.
4.      Filsafat adalah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
Menurut Harun Nasution, intisari dari filsafat ialah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas dalam artian tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama, dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
Sebenarnya, pemikiran yang bersifat falsafi didasarkan atas pemikiran yang bersifat spekulatif, maka nilai-nilai kebenaran yang dihasilkannya juga tak terhindar dari kebenaran yang bersifat spekulatif. Hasilnya akan tergantung dari pandangan para filosof itu masing-masing. Pola dan sistem berpikir filosofis dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:
1.      Cosmologi, yaitu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia, proses kejadian dan perkembangannya, dan sebagainya.
2.      Ontologi, yaitu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis pada akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah sang pencipta itu satu zat (monisme), ataukah dua (dualisme), ataukah banyak (pluralisme).

Filsafat dalam Masalah Pendidikan

Pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, dan bahkan keduanya adalah proses yang satu. Seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan. Segala pengalaman sepanjang hidupnya merupakan dan memberikan pengaruh pendidikan baginyaDalam artinya yang lebih sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup pada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol.
Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Diantara permasalahan pendidikan tersebut terdapat masalah yang sederhana yang menyangkut praktek dan pelaksanaan sehari-hari, tetapi banyak diantaranya yang menyangkut masalah yang mendasar dan mendalam, sehingga memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain dalam memecahkannya. Bahkan pendidikan juga menghadapi permasalahan yang tidak mungkin dijawab dengan menggunakan analisa ilmiah semata, tetapi memerlukan analisa dan pemikiran yang mendalam, yaitu analisa filsafat.
Sebagai contoh, beberapa masalah kependidikan yang memerlukan analisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain:
1.      Masalah pendidikan pertama yang mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan itu. Mengapa pendidikan harus ada dan merupakan hakikat hidup manusia. Dan apa sebenarnya hakikat manusia itu, dan bagaimana hubungannya antara pendidikan dengan hidup dan kehidupan manusia.
2.      Siapakah hakikatnya yang bertanggung jawab terhadap pendidikan itu, dan sampai dimana tanggung jawab tersebut. Bagaimana hubungan tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan sekolah terhadap pendidikan, dan bagaimana tanggung jawab pendidikan tersebut setelah manusia dewasa dan sebagainya.
3.      Apakah hakikat pribadi manusia itu. Manakah yang lebih utama untuk dididik; akal, perasaan ataukah kemauan, pendidikan jasmani ataukah mental, pendidikan skill ataukan intelektual, ataukah kesemuanya.
Contoh-contoh problematika pendidikan tersebut merupakan permasalahan pendidikan yang  dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dan sistematis, atau analisa filsafat.
Sedemikian pentingnya hubungan antara pendidikan dengan filsafat pendidikan, sebab ia menjadi dasar yang menjadi tumpuan suatu sistem pendidikan. Karena ia berfungsi sebagai pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, peningkatan kemajuan, dan sebagai dasar yang kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis secara mendalam dan mendasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis dan radikal (sampai ke akar-akarnya), tentang problem hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohaniah pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia yang meliputi:
1.      Individualitas: kemampuan mengembangkan diri sebagai makhluk pribadi.
2.      Sosialitas: kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat.
3.      Moralitas: kemampuan mengembangkan diri selaku pribadi dan anggota masyarakat berdasarkan moralitas.
Ketiga kemampuan pokok rohaniah di atas berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang dinamakan “trilogo hubungan”, yaitu:
1.      Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
2.      Hubungan dengan masyarakat, karena ia sebagai masyarakat.
3.      Hubungan dengan alam sekitar, karena ia makhluk Allah SWT yang harus mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi ini

Teori Manajeman Pendidikan
Teori  manajemen dari masa ke masa mengalami perkembangan baik cara pendekatan teoritis dan impelementasinya serta dari setiap perkembangan teori memiliki kelemahan dan kelebihan.
Perkembangan teori manajemen diantaranya, yaitu:
1.      Teori Klasik
2.      Teori Neo-Klasik
3.      Teori Manajemen
1.      1. Teori Klasik


Asumsi teori klasik:
Bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logis, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Oleh karen itu teori klasik berangkat dari premis bahwa organisasi bekerja dalam proses yang logis dan rasional dengan pendekatan ilmiah dan berlangsung menurut struktural atau anatomi organisasi. Para pelopor teori klasik menjelaskan pendapatnya tentang teori yang berkaitan dengan teori klasik, diantarannya, sebgai berikut:
Frederik W. Taylor (1856-1915)
Pendekatan ilmiah ini dipandang bahwa yang menjadi sasaran manajemen adalah mendapatkan kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawannya. Untuk manajemen harus melaksanakan prinsip-prinsip diantaranya:
1.      Perlu dikembangkan ilmu dari setiap tugas (pedoman gerak,implementasi kerja yang standar dan iklim kerja yang layak)
2.      Pemeilihan karyawan yang tepat sesuai dengan persyaratan kerja
3.      Perlunya pelatihan dan pemberian rangsangan
4.      Perlunya dilakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan

Gilbreth (1911)
Prinsip studi waktu, dinyatakan bahwa semua usaha yang proruktif harus diukur dengan studi waktu secara teliti (time and motion study) ukuran standar harus diberikan semua pekerjaan.

Gulick dan Urwick (1930)
Pelpor ini mengeluarkan pendapatnya tentang pedoman manajemen yang populer dengan akronim POSDCORB (Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, budgetting) sebagai kegiatan manajerial dan merupakan proses manajemen. Perinsip-prinsip pokok menurut Fayol adalah :
1.      Kesatuan komando, dianggap penting karena pembagian tugas dalam organisasi sudah sangan spesialis.
2.      Wewenang harus dapat didelegasikan
3.      Inisiatif harus dimiliki oleh setiap manajer
4.      Adanya solidaritas kelompok
Prinsip-prinsip ini menurut Fayol tidak bersifat kaku seperti  halnya Taylor, Menyarankan bahwa pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut bersifat lunak.
Menurut Weber birokrasi merupakan usaha untuk menghilangkan tradisi organisasi yang membuat keputusan secara emosional, atau berdasarkan ikatan kekeluargaan sehingga mengakibatkan organisasi tidak efektif.
Meskipun diakui bahwa birokrasi memiliki keunggulan-keunggulan dalam mencapai efesiensi organisasi, tetapi terdapat beberapa kelemahan, diantara lain:
1.      Menimbulkan kecenderungan untuk merengsang dan mengembangkan cara berfikir yang konformitas
2.      Rutinitas yang membosankan
3.      Ide-ide inovatif tidak berkembang, karena kejenuhan akibat padatnya pesan dan alur yang harus dilalui
4.      Tidak memperhitungkan adanya organisasi informal yang seringkali berpengaruh terhadap organisasi formal
Fillley, Kerr dan hous (1976)
Kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar dikemukakn sebagai berikut:
1.      Teori kelasik adalah teori yang terikat waktu. Teori ini cocok diterapkan pada abad dua puluhan, karna motif pekerja waktu itu terutama memenuhi kebutuhan fisiologis.
2.      Teori klasik mempunyai ciri-ciri deterministik. Teori sangat menekankan pada prinsip-prinsip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam manajemen seperti motivasi, pengambilan keputusan, dan hubungan informal
3.      Teori ini merumuskan merumuskan asumsi secara eksplisit. Malahan banyak asumsi yang lemah dan tidak lengakap secara implisif teori klasik itu. Antara lain: efesiensi hanya diukur oleh tingkat produktivitas yang hanya menyangkut penggunaan sumber secara ekonomis tanpa memperhitungkan faktor manusiawi.

2. Teori Neo-Klasik
Teori ini timbul sebagian karena pada para manajer terdapat berbagai kelemahan dengan pedekatan klasik. Pada kenyataannya manajer ada kesulitan dan menjadi frustasi karena orang tidak selalu mengikuti pada pola tingkah laku yang rasional. Dengan adanya perihal yang peralihan yang lebih berorientasi pada manusia deikenal dengan pendekatan perilaku sebagai ciri utama teoeri Neo-klasik.

Asumsi teori neo-klasik
Manusia itu adalah makhluk dengan mengaktualisasikan dirinya Para pelopor teori Neo-klasik diantaranya, sebgai berikut:
Elton Mayo
Menurutnya dengan studi hubungan antara manusia, atau tingkah laku manusia dalam situasi kerja terkenal dengan studi Hawthorne.
Berdasarkan hasil studi ini ternyata kelompok kerja informal lingkungan sosial pekerja mempunyai pengaruh yang besar terhadap produktivitas.
Chester I. Barnard (1976)
Menyatakan:
·         bahwa hakikat organisasi adalah kerjasama, yaitu  kesediaan orang saling berkomunikasi dan berintraksi untuk mencapai tujuan bersama.
·         suatu manajemen dapat bekerja secara efesien dan tetap hidup jika tujuan organisasi dan kebutuhan perorangan yang bekerja pada organisasi itu dijaga seimbang.


Douglas McGregor
Pendapatnya bahwa manajemen akan mendapatkan manfaat besar bila ia menaruh perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi diri karyawan.
Dua teori yang di ungkapkannya Gregor yaitu Menejer menganut teori X dan Y
TEORI X YANG BERASUMSI
IMPLIKASI
Bahwa karyawan itu tidak menyukai kerja, tidak ada mabisi, tidak bertanggungjawab, menolak perubahan dan lebih baik dipimpin daripada memimpin
Menejer Cenderung banyak mengarahkan, yang akibatnya tingkat kebergantungan karyawan kepada atasan sangat tinggi dan enggan bertindak
TEORI Y YANG BERASUMSI
IMPLIKASINYA
Karyawan bersedia bekerja, bertanggungjawab, mampu mengendalikan diri, dan berpandangan luas serta kreatif
Menejer cenderung mendorong karyawannya untuk berpartisipasi, ada kebebasan, dan bertanggungjawab.

Porte dan Lawyer (1968)
Mengutarakan teori ekspektasi yang berhasil membuat model motivasi dimana upaya (kekuatan dari motivasi dan energi) bergantung pada nilai imbalan (reward) ditambah energi yang dicurahkan dan probabilitas untuk mendapat imbalan
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Para Ahli :
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Soebagio Atmodiwirio. (2000:23). Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Engkoswara (2001:2).
Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Hadari Nawawi (1981 : 11) :
Manajemen pendidikan, adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan, secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu, terutama lembaga pendidikan formal.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut W. Haris 
Manajemen pendidikan sebagai suatu proses pengintegrasian segala usaha pendayagunaan sumber-sumber personalia dan material sebagai usaha untuk meningkatkan secara efektif pengembangan kualitas manusia.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Purwanto dan Djojopranoto (1981:14)
Manajemen pendidikan merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan untuk mendayagunakan semua sumber daya baik manusia, uang, bahan dan peralatan serta metode untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Stephen J. Knezeich
Manajemen pendidikan merupakan sekumpulan fungsi-fungsi organisasi yang memiliki tujuan utama untuk menjamin efisiensi dan efektivitas pelayanan pendidikan, sebagaimana pelaksanaan kebijakan melalui perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku kepemimpinan, penyiapan alokasi sumber daya, stimulus dan koordinasi personil, dan iklim organisasi yang kondusif, serta menentukan perubahan esensial fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat di masa depan.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Daryanto (1998:8) :
Manajemen pendidikan adalah suatu cara bekerja dengan orang-orang, dalam rangka usaha mencapai tujuan pendidikan yang efektif.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Dasuqi dan Somantri (1992:10)
mengemukakan Manajemen pendidikan adalah upaya menerapkan kaidah-kaidah Manajemen dalam bidang pendidikan.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut  Sagala (2005:27)
Manajemen pendidikan adalah penerapan ilmu Manajemen dalam dunia pendidikan atau sebagai penerapan Manajemen dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha dan praktek-praktek pendidikan. Manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Gaffar
manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematis, sistemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang (Mulyasa, 2002: 19).

Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Menurut H. A. R. Tilaar (2001:4)
manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan yang mengimplementasikan perencanaan atau rencana pendidikan.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Syarif (1976 :7) :
segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber (personil maupun materiil) secara efektif dan efisien untuk menunjang tercapainya pendidikan.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Sutisna (1979:2-3) :
Manajemen pendidikan adalah keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber personil dan materiil sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Ia mengerjakan fungsi-fungsinya dengan jalan mempengaruhi perbuatan orang-orang. Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi, pengawasan, penyelenggaraan dan pelayanan dari segala sessuatu mengenai urusan sekolah yang langsung berhubungan dengan pendidikan seklah seperti kurikulum, guru, murid, metode-metode, alat-alat pelajaran, dan bimbingan. Juga soal-soal tentang tanah dan bangunan sekolah, perlengkapan, pembekalan, dan pembiayaan yang diperlukan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya.
Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Djam’an Satori, (1980: 4).
Manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.


Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Made Pidarta, (1988:4).
Manajemen Pendidikan diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.
Aliran Nativisme
Pada hakekatnya aliran nativisme bersumber dari leibnitzian tradition yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak, oleh karena itu factor lingkungan termasuk factor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetic dari kedua orangtua.
Dalam teori ini dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Teori ini muncul dari filsafat nativisma ( terlahir ) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealism dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan factor alam yang kodrati. Teori ini dipelopori oleh filosof Jerman Arthur Schopenhauer (1788-1860) yang beranggapan bahwa factor pembawaan yang bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh alam sekitar atau pendidikan. Dengan tegas Arthur Schaupenhaur menyatakan yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik. Pandanga ini sebagai lawan dari optimism yaitu pendidikan pesimisme memberikan dasar bahwa suatu keberhasilan ditentukan oleh factor pendidikan, ditentukan oleh anak itu sendiri. Lingkungan sekitar tidak ada, artinya sebab lingkungan itu tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak.
Walaupun dalam kenyataan sehari-hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, secara bakat mewarisi bakat kedua orangtuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu-satunya factor yang menentukan perkembangan anak, tetapi masih ada factor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri (jatidiri).

Faktor-Faktor perkembangan manusia dalam teori ini
1.      Faktor genetic
Adalah factor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar.
Faktor Kemampuan AnakAdalah factor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya.
2.      Faktor pertumbuhan Anak Adalah factor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.

Teori Tabula Rasa adalah teori yang menyatakan bahwa setiap individu dilahirkan dengan jiwa yang putih bersih dan suci (yang akan menjadikan anak itu baik atau buruk adalah lingkungannya)      Tabula rasa (dari bahasa Latin kertas kosong) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya. Umumnya para pendukung pandangan tabula rasa akan melihat bahwa pengalamanlah yang berpengaruh terhadap kepribadian, perilaku sosial dan emosional, serta kecerdasan.
Gagasan mengenai teori ini banyak dipengaruhi oleh pendapat John Locke di abad 17. Dalam filosofi Locke, tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa "kertas kosong" tanpa aturan untuk memroses data, dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya. Pendapat ini merupakan inti dari empirisme Lockean. Anggapan Locke, tabula rasa berarti bahwa pikiran individu "kosong" saat lahir, dan juga ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya - namun identitas dasarnya sebagai umat manusia tidak bisa ditukar. Dari asumsi tentang jiwa yang bebas dan ditentukan sendiri serta dikombinasikan dengan kodrat manusia inilah lahir doktrin Lockean tentang apa yang disebut alami.
Pernahkah Anda mendengar tentang Teori Tabula Rasa? Saya yakin sebagian Anda pernah mendengar Teori Tabula Rasa dari John Locke ini. Arti Tabula Rasa yang asal katanya dari bahasa Latin ini adalah kertas kosong, hal ini merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya. Pada umumnya pendukung teori tabula rasa melihat bahwa pengalaman sanagat berpengaruh terhadap kepribadian, perilaku sosial dan emosional, serta kecerdasan anak manusia.
Jika meninjau teori ini, maka dialog tersebut di atas menjadi pintu masuk bagi pengalaman yang kurang baik bagi perkembangan jiwa sang anak. Bukan tidak mungkin jika Anda menemukan diri buah hati Anda berbeda dari saudara-saudaranya yang lain dan juga kepribadian Anda sendiri. Anda yang diasuh dengan lemah lembut dan sapa mesra akan hadir di dunia ini dengan karakter yang demikian, dan begitu pula sebaliknya. Yah, minimal, standarnya, diasuh secara normal-normal saja dengan mengikuti norma yang ada juga cukup Saya rasa untuk menjadikan seorang anak manusia menjadi pribadi yang baik

BAB III. KESIMPULAN
Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan, filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah atau kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, ilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana. Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher, atau filsuf dalam bahasa Arab. Dan pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
Teori  manajemen dari masa ke masa mengalami perkembangan baik cara pendekatan teoritis dan impelementasinya serta dari setiap perkembangan teori memiliki kelemahan dan kelebihan. Perkembangan teori manajemen diantaranya, yaitu:
1.      Teori Klasik
2.      Teori Neo-Klasik
3.      Teori Manajemen

Manajemen pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Place Your Ad Code Here

No comments:

Post a Comment